PATI – Karier politik Sudewo, Bupati Pati terpilih yang sempat dielu-elukan karena dukungan langsung dari mantan Presiden Joko Widodo, kini memasuki babak yang mengejutkan. Belum genap sebulan dilantik, ia menghadapi gelombang penolakan publik dan bahkan dimakzulkan dari jabatannya.
Sebelum pemungutan suara Pilkada serentak 2025, Sudewo bersama calon wakilnya, Risma Ardhi Chandra, sempat mengunjungi rumah Presiden Jokowi di Kelurahan Sumber, Solo, Jawa Tengah, pada 6 November 2025. Pertemuan itu mereka unggah ke Instagram, lengkap dengan pesan dukungan dari Jokowi.
“Dukungan Pak Jokowi mencerminkan keyakinan terhadap kapasitas saya dan Mas Chandra untuk mewujudkan visi perubahan yang lebih baik bagi Kabupaten Pati,” tulis Sudewo dalam unggahan akun @sudewoofficial, pada 7 November.
Dalam video pertemuan tersebut, Jokowi menyebut potensi besar Kabupaten Pati di sektor perikanan dan produksi garam, serta menitipkan keduanya agar dikelola secara maksimal. Berbekal dukungan ini, pasangan Sudewo-Chandra meraih 53,53 persen suara, mengalahkan dua pasangan lainnya dalam Pilkada 27 November 2025. Mereka juga didukung delapan partai politik besar, termasuk Gerindra, NasDem, Golkar, dan PKB.
Namun, harapan masyarakat akan perubahan cepat berubah menjadi kekecewaan. Hanya sebulan setelah dilantik, Sudewo menghadapi demonstrasi besar-besaran dari ribuan warga Pati pada 13 Agustus 2025. Aksi protes dipicu oleh kenaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) hingga 250 persen, yang dinilai sangat membebani masyarakat.
Gelombang protes tak terbendung. Tuntutan agar Sudewo mundur dari jabatannya menguat, bahkan dari kalangan DPRD. Akhirnya, dalam waktu yang terbilang sangat singkat sejak pelantikannya, Sudewo resmi dimakzulkan dari jabatan Bupati Pati.
Kasus ini menjadi catatan penting tentang bagaimana besarnya ekspektasi publik bisa berubah menjadi penolakan jika kebijakan yang diterapkan dianggap tidak berpihak kepada rakyat.