Lombok Timur, 30 Juli 2025 — Mahasiswa Universitas Gunung Rinjani (UGR) yang tengah melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Rarang, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, menunjukkan kontribusi nyata dalam bidang pertanian berkelanjutan. Dalam salah satu kegiatan unggulannya, mahasiswa KKN UGR bekerja sama dengan Salihun, S.P., selaku Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Rarang, dan Kelompok Tani Pede Culuk II untuk mengolah limbah kulit pisang menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan Mikroorganisme Lokal (MOL).Kegiatan ini dipimpin oleh Darmawan selaku Ketua Kelompok KKN Desa Rarang dan merupakan bagian dari program kerja yang berfokus pada pengolahan limbah organik untuk pertanian ramah lingkungan. Inisiatif ini dilaksanakan sebagai solusi terhadap mahalnya harga pupuk kimia dan dampaknya terhadap kualitas tanah dan lingkungan.> “Kami ingin memperkenalkan metode sederhana namun efektif kepada petani, yakni mengubah limbah dapur seperti kulit pisang menjadi pupuk cair alami. Bahan mudah didapat, prosesnya sederhana, dan manfaatnya besar,” ungkap Darmawan dalam sambutannya.Kulit Pisang: Dari Limbah Menjadi Nutrisi TanamanKulit pisang mengandung unsur hara penting seperti kalium (K), fosfor (P), dan magnesium yang sangat dibutuhkan tanaman, terutama pada fase pembungaan dan pembuahan. Dengan fermentasi sederhana menggunakan MOL dan gula merah, kulit pisang dapat diubah menjadi pupuk cair organik yang kaya nutrisi.Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan POC, mulai dari pemilahan kulit pisang, pencacahan, pencampuran dengan air dan gula merah, hingga tahap fermentasi yang memakan waktu sekitar 7–10 hari.Salihun, S.P., selaku PPL Desa Rarang, turut serta membimbing dan memberi penjelasan teknis kepada anggota kelompok tani tentang manfaat penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang.> “Pupuk organik seperti POC dan MOL ini bukan hanya murah, tetapi juga membantu menjaga kesuburan tanah, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis,” jelas Salihun.Antusiasme Petani dan Harapan BerkelanjutanAnggota Kelompok Tani Pede Culuk II menunjukkan antusiasme tinggi selama pelatihan berlangsung. Mereka terlibat aktif dalam proses pembuatan dan mengungkapkan ketertarikan untuk mengembangkan metode ini secara mandiri di kebun masing-masing.“Selama ini kulit pisang hanya dibuang. Sekarang kami tahu bisa jadi pupuk yang bagus. Ini sangat membantu, apalagi saat pupuk kimia mahal,” ujar salah satu anggota kelompok tani.Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi positif antara dunia akademik dan masyarakat desa dalam menjawab tantangan pertanian modern yang berkelanjutan. Tidak hanya memberikan solusi praktis, tetapi juga mengedukasi petani agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pertanian mereka.Langkah Awal untuk Pertanian BerkelanjutanMelalui program ini, mahasiswa KKN UGR tidak hanya menularkan ilmu, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan perilaku petani terhadap pentingnya pertanian ramah lingkungan. Pihak Desa Rarang menyambut baik inisiatif ini dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan di masa depan.Program pembuatan POC dan MOL dari kulit pisang ini diharapkan menjadi titik awal bagi petani Desa Rarang dalam mengembangkan inovasi pertanian yang berbasis pada kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Inovasi Ramah Lingkungan: Mahasiswa KKN UGR Gandeng PPL dan Kelompok Tani di Desa Rarang Ciptakan Pupuk Cair dari Limbah Kulit Pisang
